Percayakah, bahwa rasa BERSYUKUR itu adalah penghiburan yang paling ampuh saat kita berada dalam keterpurukan yang paling dalam ? Aku percaya dan aku sudah melakukannya. Dengan rasa bersyukur kita bisa membuka hati dan pikiran kita. Memang sangat sulit mengucapkan dan melakukan rasa bersyukur itu dalam kehidupan kita, apalagi ketika masalah yang silih-berganti dalam kehidupan kita masing-masing. Saat kita merasa tidak ada yang perlu disyukuri dari apa yang terjadi dan dari apa yang kita rasakan.
Aku tidak bisa mengungkapkan bagaimana rasa bersyukur itu mengubah semua masalah menjadi kebahagiaan dalam hidupku . Coba kamu lakukan sendiri ! Apa yang kamu rasakan ketika bersyukur dalam setiap perkara yang menerpa hidupmu.
Mungkin ini pelajaran yang bisa kita pelajai agar kita tidak merasakan bagaimana berada dalam posisi TITIK NOL. Mungkin kamu sudah paham apa itu TITIK NOL dalam kehidupan yang sedang kita jalani ini.
Titik nol adalah gambaran kondisi kehidupan manusia yang sedang berada dalam titik terendah baik itu secara mental-spiritual maupun jasmani.Kebahagiaan, kemapaman, kesehatan, yang dimiliki selama bertahun-tahun dalam sekejab tiba-tiba lenyap. Maka kehidupan demikianlah yang dikatakan Titik nol. Apakah dalam kondisi seperti ini kamu mampu mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan Yesus ? Karna pada saat-saat seperti ini manusia biasanya mengalami depresi berat dan sangat sulit bangkit untuk memperbaiki kehidupannya. Cerita dari Israel bisa menjadi motivasi bagi kita agar bisa belajar bangkit dari keterpurukan.
Israel berada dalam Titik nol. "Tulang-tulang kami sudah menjadi kering dan pengharapan kami sudah lenyap, kami sudah hilang," (Yeh 37 :11b). Begitulah gambaran kondisi mereka saat itu, Israel berpikir, Allah telah meninggalkan mereka dan membiarkan mereka ditawan. Negeri tercinta Yerusalem dan Bait Allah telah hancur, kemerdekaan sebagai bangsa dan kebanggan sebagai umat Allah musnah. Dalam kondisi seperti itu, Allah mengutus Yehezkiel untuk bernubuat tentang kebangkitan israel (Yeh 37:12-14) dari kematian iman dan harapan (Yeh 37:11). Kebangkitan Itu meliputi, menghidupan iman dan harapan umat israel dan pembebasan dari babelsehingga mereka dapat kembali ketanah Israel. Tindakan allah yang membangkitkan, menghidupkn dan membebaskan Israel bertujuan agar Israel kembali kepada-Nya.
Mungkin diantara kita sudah banyak merasakan bagaimana dalam keadaan dan kondisi dititik nol ini. Mungkin kebangkrutan, kegagalan dalam berumah tangga, sakit parah manahun, kehilangan jabatan atau semacamnya. Ketika saat itu datang pasti kita benar-benar kehilangan iman dan pengharapan dan tidak mungkin sanggup lagi untuk mengucakan rasa bersyukur kepada Allah. Seperti Israel yang menyalahkan keadaan, pasti kita juga akan seperti itu. Allah tidak akan membiarkan kita sendiri, sekalipun cobaan itu datang dan begitu berat untuk dihadapi, Dia itu ada untuk kita dan selalu menemani kita dalam setiap waktu yang kita lalui. Bersukur adalah cara yang palin tepat dalam menghibur diri. Tuhan Allah akan memperhitungkan rasa ucapan syukur yang kita panjatkan untuk-Nya dan akan membayar Titik Nol itu menjadi kebahagiaan yang pernah kita miliki. Bahkan kebahagiaan itu akan lebih indah daripada kebahagiaan yang pernah kita dapat sebelumnya. Tuhan Allah hanya menginginkan kita kembali kepada-Nya, agar kita jangan terlalu terbuai dengan kenikmatan yang kita dapatkan dari-Nya tapi kita juga lupa untuk mengucap syukur, jadikan semuanya menjadi pelajaran dalam kehidupan kita. Tetaplah bersyukur dalam segala hal .
Sabda Bina Umat GPIB
Selasa, 08 Juli 2014
Sabtu, 05 Juli 2014
JAGALAH MULUT !
Diambil dari injil Amsal 13:3 yang bunyinya "Siapa yang menjaga mulutnya, memelihara nyawanya, siapa yang lebar bibir akan ditimpa kebinasaan."
Ada peribahasa yang sering kita dengar mengatakan "Mulutmu Harimaumu". Peribahasa ini sering menjelaskan bahwa perkataan yang sering keluar dari mulut kita harus dikuasai. Jika tidak perkataan itu dapat menjadi "harimau" yang bisa mencelakai diri kita sendiri.
Hal serupa juga dikatakan oleh Amsal dalam isinya "dari buah mulutnya seseorang akan makan yang baik" (Ay. 2a). Buah mulut yang dimaksud adalah hasil atau akibat yang keluar dari mulut kita. Hasil dan akibat itu sejalan dari kualitas perkataan yang keluar dari mulut kita. Jika kualitas perkataan itu baik dan bijaksana seperti membangun diri dan sesama, maka orang-orang itu akan menikmati hal-hal yang baik juga. Diayat tyang ke-3 Amsal juga dengan tegas mengatakan "Siapa yang menjaga mulutnya, memelihara nyawanya, siapa yang lebar bibir akan ditimpa kebinasaan". Artinya orang yang bisa mengendalikan perkataannya dengan menjaga emosi dan memikirkan terlebih dahulu yang ingin diucapkan, maka ia akan terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan atau bahkan yang dapat membinasakannya.
Kita diajak untuk bisa belajar menjaga mulut kita agar kata-kata yang keluar adalah kata-kata yang dapat membangun dan memberkati sesama. Apalagi kita sebagai anak muda yang sangat sulit mengendalikan emosi sehingga perkataan yang kita ucapkan tidak menunjukan hal-hal yang baik. Ingatlah, masalah terkadang datang bukan hanya dari sikap kita, tetapi dari perkataan yang keluar dari mulut kita. Maka jagalah mulut kita, hindari mulut dari kata-kata penghinaan, cacimaki, kebohongan dan fitnah karna didunia ini sudah penuh dengan kemunafikan yang muncul daripada mulut-mulut yang tidak baik. Jangan jadikan mulutmu sebagai tersangka ataupun korban, karena mulut bisa menjadi pisau tajam yang mencari mangsa .
Sabda Bina Umat GPIB
Ada peribahasa yang sering kita dengar mengatakan "Mulutmu Harimaumu". Peribahasa ini sering menjelaskan bahwa perkataan yang sering keluar dari mulut kita harus dikuasai. Jika tidak perkataan itu dapat menjadi "harimau" yang bisa mencelakai diri kita sendiri.
Hal serupa juga dikatakan oleh Amsal dalam isinya "dari buah mulutnya seseorang akan makan yang baik" (Ay. 2a). Buah mulut yang dimaksud adalah hasil atau akibat yang keluar dari mulut kita. Hasil dan akibat itu sejalan dari kualitas perkataan yang keluar dari mulut kita. Jika kualitas perkataan itu baik dan bijaksana seperti membangun diri dan sesama, maka orang-orang itu akan menikmati hal-hal yang baik juga. Diayat tyang ke-3 Amsal juga dengan tegas mengatakan "Siapa yang menjaga mulutnya, memelihara nyawanya, siapa yang lebar bibir akan ditimpa kebinasaan". Artinya orang yang bisa mengendalikan perkataannya dengan menjaga emosi dan memikirkan terlebih dahulu yang ingin diucapkan, maka ia akan terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan atau bahkan yang dapat membinasakannya.
Kita diajak untuk bisa belajar menjaga mulut kita agar kata-kata yang keluar adalah kata-kata yang dapat membangun dan memberkati sesama. Apalagi kita sebagai anak muda yang sangat sulit mengendalikan emosi sehingga perkataan yang kita ucapkan tidak menunjukan hal-hal yang baik. Ingatlah, masalah terkadang datang bukan hanya dari sikap kita, tetapi dari perkataan yang keluar dari mulut kita. Maka jagalah mulut kita, hindari mulut dari kata-kata penghinaan, cacimaki, kebohongan dan fitnah karna didunia ini sudah penuh dengan kemunafikan yang muncul daripada mulut-mulut yang tidak baik. Jangan jadikan mulutmu sebagai tersangka ataupun korban, karena mulut bisa menjadi pisau tajam yang mencari mangsa .
Sabda Bina Umat GPIB
Jumat, 04 Juli 2014
Menjadi Yang Terbaik
Siapasih yang gak mau menjadi yang terbaik dalam hidupnya ? Tentunya semua orang ingin sekali menjadi yang terbaik didalam hidupnya. Saya sendiri sangat menginginkan hal tersebut dalam diri saya, saya ingin kebaikan yang ada dalam hidup saya dapat membahagiakan orang-orang yang menyayangi saya. Memang sulit untuk bisa menjadi yang terbaik, tergantung juga dengan situasi dan kondisi yang ada dalam diri kita. Coba tanya hatimu, "Berapakah usiaku saat ini dan apa saja perbuatan baik yang udah membuat sekellilingku bahagia ?" Saya rasa banyak yang mengaku bahwa dirinya sudah cukup banyak melakukan hal yang baik bagi sekelilingnya. Termasuk saya sendiri, saya sering sekali memperhitungkan hal-hal yang mungkin menurut saya baik yang pernah saya lakukan, tapi itulah sisi buruknya. Banyak hal yang bisa kita lakukan dalam hidup kita untuk membuat orang bahagia, simple saja. Buat kamu yang sudah memiliki sepasang kekasih cobalah untuk Setia, karna itu hal kecil yang sangat sulit dilakukan untuk bisa membuat orang yang sayang dengan kita bisa bahagia. Renungan ini apabila kita mengerti dan kita berusaha untuk melakukannya didalam kehidupan kita sehari-hari kita sudah bisa menjadi yang terbaik. Melalui ayat Amsal 12: 21 "Orang benar tidak akan ditimpa oleh bencana apapun, tapi orang fasik akan senantiasa celaka."
Melalui bacaan Amsal ini, kita akan melihat bersama beberapa tipe orang dalam menjalani kehidupan ini :
Sabda Bina Umat GPIB
Melalui bacaan Amsal ini, kita akan melihat bersama beberapa tipe orang dalam menjalani kehidupan ini :
- Orang Benar, tidak akan ditimpa oleh bencana apapun: asal manusia berusaha hidup benar dihadapan Tuhan, maka akan dimampukan untuk melewati berbagai peristiwa dalam hidup, sehingga bencana tidak akan menjadi bagian dalam hidup.
- Orang Fasik, akan senantiasa celaka: orang yang mengandalkan diri sendiri dan tidak menyertakan Tuhan dalam setiap keputusan yang diambil, pada akhirnya akan mengalami kesusahan dalam hidup.
- Orang Yang Dusta Bibir, merupakan keji bagi Tuhan: orang yangg gemar hidup dalam kebohongan dipandang sangat rendah bahkan dibenci oleh Tuhan.
- Orang Setia, dikenan-Nya: setia disini diartikan kesetiaan manusia untuk tetap berusaha hidup didala kejujuran.
- Orang Bijak, menyembunyikan pengetahuannya: dikatakan bijak karna orang tipe ini tidak hanya pandai bicara, tapi juga melakukan apa yang baikserta menjadi teladan yang baik.
- Orang Bebal, menyerukan kebodohan: orang yang bebal tidak dapat dipercayai omongannya bahkan tidak dapat memberikan contoh yang baik.
Sabda Bina Umat GPIB
Bertobat Dan Nantikanlah Kehendak Tuhan
Yesaya 30:15-18
" Sebab beginilah firman Tuhan Allah, Yang mahakudus, Allah israel : "Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu"Tetapi kamu enggan" (ay.15)
Dalam keadaan terjepit, terancam atau mengalami persoalan yang berat, sering kita mengalihkan perhatian kita pada kekuatan manusia dan mengabaikan Tuhan. Begitulah sikap Yehuda ketika mengalami kritis. Mereka mencari segala upaya sendiri dan menyandarkan diri kepada Mesir. Mereka lebih suka mengandalkan kereta perang dan kuda-kuda Mesir. Semua itu adalah alat-alat perang yang ampuh dan dibanggakan oleh tentara Mesir (Kel 14:6; 15:1; 2 Taw 12:3; Yer 46:4,9). Nabi menyatakan bahwa perhitungan mereka akan melesetb"karena pengejarmu lebih tangkas" (ay.16). Mereka akan dikecewakan menghadapi musuh yang kuat dan besar dari Asyur yang digambarkan dengan perbedaan yang mencolok, bahwa seribu orang akan melarikan diri terhadap seorang musuh (ay.17). Hal ini ingin mengingatka mereka bahwa tidak ada yang bisa diandalkan dari kekuatan manusia. Yang akan mereka yaitu TUHAN, lebih kuat dan tangkas.Satu-satunya cara agar kekuatan dan keselamatan mereka dipulihkan adlah bertobat dan tinggal diam, tenang serta percaya bahwa akan ada saatnya Tuhan menunjukan kaih setiaNya kepada mereka (ay.15,18). Sabarlam menantikan-nantikan pertolongan dari Tuhan. Memang menantikan itu pekerjaan yang tidak menyenagkan, apalagi menanti dengan waktu yang cukup lama. Terkdang kita tidak sadar, maunya instan dan cepat sehingga kita mencari jalan pintas. Ada saatnya Tuhan inginkan agar kita berdiam diri. Seperti ketika bangsa Israel keluar dari Mesir. Bayangkan saja, didepan laut Teberau, dibelakang ada pasukan Mesir. Ibaratnya maju kena mundur kena. Tetapi Tuhan berfirman "Kamu diam saja Aku yang akan berperang untuk kamu" (kel 14:14)
Tidak mudah memang menantikan waktu Tuhan, apalagi saat kenyataan yang ada disekitar kita seperti akan menghancurkan hidup dan masa depan kita. Firman-Nya "berbahagialah orang yang menanti-nantikan Dia" (ay. 18b), karena pertolongan Tuhan itu tidak pernah terlambat bagi orang-orang yang berseru-seru kepada-Nya dan menantikan-Nya dengan setia.
Sabda Bina Umat GPIB
" Sebab beginilah firman Tuhan Allah, Yang mahakudus, Allah israel : "Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu"Tetapi kamu enggan" (ay.15)
Dalam keadaan terjepit, terancam atau mengalami persoalan yang berat, sering kita mengalihkan perhatian kita pada kekuatan manusia dan mengabaikan Tuhan. Begitulah sikap Yehuda ketika mengalami kritis. Mereka mencari segala upaya sendiri dan menyandarkan diri kepada Mesir. Mereka lebih suka mengandalkan kereta perang dan kuda-kuda Mesir. Semua itu adalah alat-alat perang yang ampuh dan dibanggakan oleh tentara Mesir (Kel 14:6; 15:1; 2 Taw 12:3; Yer 46:4,9). Nabi menyatakan bahwa perhitungan mereka akan melesetb"karena pengejarmu lebih tangkas" (ay.16). Mereka akan dikecewakan menghadapi musuh yang kuat dan besar dari Asyur yang digambarkan dengan perbedaan yang mencolok, bahwa seribu orang akan melarikan diri terhadap seorang musuh (ay.17). Hal ini ingin mengingatka mereka bahwa tidak ada yang bisa diandalkan dari kekuatan manusia. Yang akan mereka yaitu TUHAN, lebih kuat dan tangkas.Satu-satunya cara agar kekuatan dan keselamatan mereka dipulihkan adlah bertobat dan tinggal diam, tenang serta percaya bahwa akan ada saatnya Tuhan menunjukan kaih setiaNya kepada mereka (ay.15,18). Sabarlam menantikan-nantikan pertolongan dari Tuhan. Memang menantikan itu pekerjaan yang tidak menyenagkan, apalagi menanti dengan waktu yang cukup lama. Terkdang kita tidak sadar, maunya instan dan cepat sehingga kita mencari jalan pintas. Ada saatnya Tuhan inginkan agar kita berdiam diri. Seperti ketika bangsa Israel keluar dari Mesir. Bayangkan saja, didepan laut Teberau, dibelakang ada pasukan Mesir. Ibaratnya maju kena mundur kena. Tetapi Tuhan berfirman "Kamu diam saja Aku yang akan berperang untuk kamu" (kel 14:14)
Tidak mudah memang menantikan waktu Tuhan, apalagi saat kenyataan yang ada disekitar kita seperti akan menghancurkan hidup dan masa depan kita. Firman-Nya "berbahagialah orang yang menanti-nantikan Dia" (ay. 18b), karena pertolongan Tuhan itu tidak pernah terlambat bagi orang-orang yang berseru-seru kepada-Nya dan menantikan-Nya dengan setia.
Sabda Bina Umat GPIB
Kamis, 03 Juli 2014
Kegagalan dalam Persahabatan
Dalam kehidupan ini tentu kita semua pernah merasa dikhianati oleh sahabat kita sendiri. Pada zaman ini kita sangat sulit untuk menemukan sahabat yang benar-benar sejati. Tuhan Yesus mengajarkan kita untuk bisa saling mengasihi sesama manusia. Tidak sedikit diantara kita yang pasti pernah menjadi seorang pengkhianat ataupun seorang yang dikhianati. Dalam kitab Mazmur 41 : 9-13 kita bisa membaca bahwa kita akan menemukan sahabat yang berkhhianat didalam hidup kita, tetapi dalam ayat ini kita bisa mengerti juga siapa sahabat yang paling baik dalam hidup kita yang bisa mengerti segala keluh-kesah hati kita, kita bisa mempercayai segala macam rahasia hidup kita kepadaNya, benar sekali, Dia adalah Tuhan Allah kita, Bapa yang menyayangi anak-anak nya dan tidak akan pernah membiarkan anakNya berada dalam kesusahan. Dia punya berbagai cara dalam memberikan kita solusi dan jalan keluar dalam menghadapi setiap masalah yang kita hadapi. Dia adalah sahabat yang tidak akan pernah mengkhianati dan tidak akan meninggalkan kita. Ada beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk menemukan dan menjadi sahabat yang baik dalam kehidupan kita,
- Tunjukan kepedulian yang tulus : Persahabatan yang sejati sangat membutuhkan komitmen. Dengan kata lain, seorang sahabat yang baik merasa punya tanggung jawab sebagai sahabat kamu, dan benar-benar perduli terhadap kamu. Tentu, komitmen bersifat dua arah, dan itu memerlukan upaya yang keras dan pengorbanan dari kedua pihak. Namun, pengorbanan itu pasti membuahkan hasil. Tanyai hati kamu 'Apakah aku rela memberikan diri, waktu dan hal lain yang aku miliki demi sahabatku?' Ingatlah untuk mendapat sahabat yang baik, kamu sendiri perlu menjadi sahabat yang baik.
Alkitab mengatakan "Sebagaimana kamu ingin orang lakukan kepadamu, lakukan juga demikian kepada mereka. Praktekanlah hal memberi maka kamu akan diberi." (Lukas 6:31, 38). Ayat ini kita bisa mengetahui bahwa Yesus menasehati kita untuk bermurah hati dan tidak mementingkan diri sendiri. Dengan bermurah hati kita bisa memupuk persahabatan . - Jadilah teman bicara yang baik : Persahabatan yang baik tidak bisa tumbuh tanpa ada komunikasi yang rutin. Maka, kita perlu berbagi tentang cerita tentang hal-hal yang sama-sama disukai. Dengarkan apa yang sahabat kita katakan, dan hargai pendapatnya. Kalau cocok, pujilah dia berilah dia semangat. Terkadang, kita perlu juga menegur atau bahkan menasehati sahabat kita, dan itu memang tidak mudah. Tetapi seorang sahabat yang setia akan berani memberi tahu kesalahan serius sahabatnya dan memberi nasihat dengan hati-hati.
Alkitab mengatakan "Setiap orang harus cepat mendengar, lambat berbicara, lambat murka." (Yakobus 1:19) Sahabat-sahabat yang baik akan saling mendengarkan. kalau kita terus yang berbicara, kita seolah-olah bahwa pendapat kitalah yang paling penting. Maka perhatikanlah baik-baik saat sahabat kita sedang menceritakan isi hati dan perasaannya. Dan jangan tersinggung kalau dia berterus terang dengan kamu. "Luka-luka yang ditimbulkan oleh seorang yang mengasihi adalah setia," kata Amsal 27:6. - Jangan menuntut kesempurnaan : Semakin akrab kita dengan seorang sahabat, semakin jelas kita melihat kelemahannya. Teman kita memang tidak sempurna, tapi kita juga sama. Karna itu kita tidak boleh mengharapkan atau menuntut kesempurnan dari sahabat kita. Sebaliknya, kita menghargai kelebihan mereka dan memaklumi kesalahannya.
Alkitab mengatakan "Kita semua sering kali tersandung dalam perkataan, ia adalah manusia sempurna, juga sanggup mengekang seluruh tubuhnya. (Yakobus 3:2) Kalau kita sadar akan kebenaran sederhana ini, kita bisa lebih memaklumi sahabat kita. Selanjutnya, itu akan membuat kita mengabaikan kekurangan dan kesalahan kecil yang tidak kita sukai. "Teruslah bersabar seorang terhadap yang lain dan ampuni satu sama lain dengan lapangan hati jika ada yang mempunyai alasan untuk mengeluh sehubungan dengan orang lain.
...Tetapi selain semua perkara ini kenakanlah kasih, sebab itu adalah ikatanpemersatu yang sempurna."-Kolose 3:13-14. - Perluaslah pergaulan : Memang benar, kita perlu berhati-hati memilih teman. Tetapi itu tidak berarti kita berteman dengan yang seumur atau yang memiliki latar belakang tertentu. Jika kita juga berteman dengan orang dari segala usia, budaya dan kebangsaan, wawasan kita akan semakin luas.
Alkitab mengatakan "Maka sebagai balasan-aku berbicara seperti kepada anak-anak kamu juga, bukalah dirimu lebar-lebar." (2 Korintus 6:13) Alkitab menasehati kita untuk berteman dengan berbagai macam orang. Kalau kamu membuka diri dan mempunyai teman dari berbagai macam latar belakang, hidup kamu akan lebih berwarna, dan kamupun akan disayangi.
"dikutip dari Sedarlah"
Renungan malam : Amsal 1 : 8-9
Amsal 1 : 8 Hai anakku dengarkanlah didikan ayahmu dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu.
Amsal 1 : 9 sebab karangan bunga yang indah itu bagi kepalam, dan suatu kalung bagi lehermu.
Pendidikan Sebagai Proses Pemanusiaan Bagi Manusia yang Berkualitas:
Jhon Pestalozzi, seorang pakar pendidikan, menyatakan bahwa "Pendidikan harus memusatkan dirinya pada proses pemanusiaan agar menjadi manusia yang lebih luhur dan mulia." Dengan demikian peran pendidikan lebih dari sekedar membekali seseorang ilmu pengetahuan, keterampilan, dan sebagainya. Pendidikan dalam pelayanan mempunyai cakupan yang sangat luas dalam kehidupan seseorang. Oleh sebab itu pendidikan disebut gagal apabila para murid terjun kemasyarakat sebagai manusia yanng kurang bermoral, kurang menjunjung harkat dan derajat manusia, yang hanya mencari kedudukan dan kekuasaan. Hal itu merusak hubungan dengan Tuhan, sebab menyakiti orang lain untuk pemuasan nafsu dan ambisinya.
Kualitas pribadi dan moral kita adalah produk dari masa kecil dan itu dimulai dari dalam kehidupan dirumah. Betapa pentingnya keluarga menjadi wadah pembinaan iman disamping pendidikan fomal. Penulis amsal menyerukan kepada anak-anak agar mendengarkan dengan sungguh-sungguh didikan ayah serta jangan menyia-nyiakan ajaran ibu. Sebab karangan bunga dan kalung dikenakan pada tubuh mereka. Itu adalah lambang kehormatan, penghargaan karena sebagai oarang tua, mereka sudah mengalami suka dukanya hidup.
Hidup seseorang akan berkualitas sengan menjalin kedekatan hubungan pribadi yang mendalam dengan Allah, sumber hikmat. Hubungan itu membentuk mereka menjadi seseorang yang selalu mengucap syukur dalam segala hal. Dalam susah dan senang tidak melupakan Tuhannya. Dalam kegagalan mereka tidak mudah undur diri dari hadapan tuhan melainkan mencari letak penyebab kegagalannya dan berupaya memperbaikinya.
Didikan ajaran ayah dan ibu, menjadi kata-kata bermakna yang dilatarbelakangi perjalanan hidup orangtua. Kegagalan yang dialami orangtua, dapat menjadi peringatan menjadi anak untuk belajar dari kegagalan. Keberhasilan orang tua, dapat menjadi peringatan bagi anak untuk belajar dari kegagalan. Keberhasilan orangtua, dapat menjadi dorongan/motivasi bagi anak untuk meraihnya. Kebanggan orangtua adalah ketika anaknya taat dan tidak membuang kesempatan, serta hidup yang terarah pada Tuhan Sang Sumber Hikmat.
Sabda Bina Umat GPIB
Amsal 1 : 9 sebab karangan bunga yang indah itu bagi kepalam, dan suatu kalung bagi lehermu.
Pendidikan Sebagai Proses Pemanusiaan Bagi Manusia yang Berkualitas:
Jhon Pestalozzi, seorang pakar pendidikan, menyatakan bahwa "Pendidikan harus memusatkan dirinya pada proses pemanusiaan agar menjadi manusia yang lebih luhur dan mulia." Dengan demikian peran pendidikan lebih dari sekedar membekali seseorang ilmu pengetahuan, keterampilan, dan sebagainya. Pendidikan dalam pelayanan mempunyai cakupan yang sangat luas dalam kehidupan seseorang. Oleh sebab itu pendidikan disebut gagal apabila para murid terjun kemasyarakat sebagai manusia yanng kurang bermoral, kurang menjunjung harkat dan derajat manusia, yang hanya mencari kedudukan dan kekuasaan. Hal itu merusak hubungan dengan Tuhan, sebab menyakiti orang lain untuk pemuasan nafsu dan ambisinya.
Kualitas pribadi dan moral kita adalah produk dari masa kecil dan itu dimulai dari dalam kehidupan dirumah. Betapa pentingnya keluarga menjadi wadah pembinaan iman disamping pendidikan fomal. Penulis amsal menyerukan kepada anak-anak agar mendengarkan dengan sungguh-sungguh didikan ayah serta jangan menyia-nyiakan ajaran ibu. Sebab karangan bunga dan kalung dikenakan pada tubuh mereka. Itu adalah lambang kehormatan, penghargaan karena sebagai oarang tua, mereka sudah mengalami suka dukanya hidup.
Hidup seseorang akan berkualitas sengan menjalin kedekatan hubungan pribadi yang mendalam dengan Allah, sumber hikmat. Hubungan itu membentuk mereka menjadi seseorang yang selalu mengucap syukur dalam segala hal. Dalam susah dan senang tidak melupakan Tuhannya. Dalam kegagalan mereka tidak mudah undur diri dari hadapan tuhan melainkan mencari letak penyebab kegagalannya dan berupaya memperbaikinya.
Didikan ajaran ayah dan ibu, menjadi kata-kata bermakna yang dilatarbelakangi perjalanan hidup orangtua. Kegagalan yang dialami orangtua, dapat menjadi peringatan menjadi anak untuk belajar dari kegagalan. Keberhasilan orang tua, dapat menjadi peringatan bagi anak untuk belajar dari kegagalan. Keberhasilan orangtua, dapat menjadi dorongan/motivasi bagi anak untuk meraihnya. Kebanggan orangtua adalah ketika anaknya taat dan tidak membuang kesempatan, serta hidup yang terarah pada Tuhan Sang Sumber Hikmat.
Sabda Bina Umat GPIB
Langganan:
Komentar (Atom)